Tahun ini benar-benar menjadi momen bersejarah bagi dunia sastra Indonesia karena kita merayakan 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer. Beliau bukan sekadar penulis biasa, melainkan sosok sastrawan besar yang pemikirannya terus hidup dan menginspirasi banyak orang melintasi berbagai zaman. Dikenal sangat tajam dalam mengkritik ketimpangan sosial dan kondisi politik di Indonesia, karya-karyanya dulu kerap kali berhadapan dengan tembok tebal kekuasaan. Pada era Orde Baru, beberapa bukunya bahkan dilarang keras untuk diedarkan. Ironisnya, pelarangan di masa lalu itu justru melahirkan sebuah fenomena aneh di pasar literasi kita hari ini. Karya-karya Pramoedya kini berubah wujud menjadi harta karun yang paling diburu oleh para kolektor buku.
Membicarakan harga buku-bukunya saat ini sama halnya dengan melihat sebuah spektrum yang sangat luas. Di platform e-commerce modern seperti Shopee dan Blibli, Anda masih bisa menemukan buku-bukunya dengan harga terjangkau mulai dari Rp 50.000. Untuk buku-buku yang stoknya lebih umum, biasanya paket bundling dijual di kisaran Rp 200.000 hingga Rp 250.000, sementara versi satuannya bisa ditebus jauh lebih murah. Namun ceritanya akan sangat berbeda kalau kita sudah masuk ke ranah para kolektor. Harga buku langka Pramoedya bisa meroket gila-gilaan menembus angka Rp 100.000.000. Bayangkan saja, untuk buku berjudul ‘Di Tepi Kali Bekasi’ edisi ketiga, saat ini harganya dipatok hingga Rp 30.000.000. Fakta ini menjadi bukti nyata betapa tingginya apresiasi dan minat masyarakat terhadap edisi-edisi lawas nan langka dari sang legenda.
Ekspansi Buku Klasik ke Layar Lebar Fenomena perburuan literatur klasik rupanya tidak hanya terjadi dalam bentuk fisik buku cetak di Indonesia. Di industri hiburan Barat, karya sastra lawas bernilai tinggi justru diburu hak ciptanya untuk dihidupkan kembali ke layar lebar. Sony Pictures baru saja berhasil mengamankan sebuah paket kreatif yang sangat prestisius. Mereka akan mengadaptasi seri novel laga klasik ‘The Executioner’ karya Don Pendleton. Proyek penuh adrenalin ini menyatukan kembali sutradara Shane Black dengan produser aksi veteran, Joel Silver.
‘The Executioner’ sendiri punya rekam jejak yang fantastis di dunia literatur. Mengusung genre fiksi picisan yang kental, seri ini menceritakan rentetan petualangan Mark Bolan. Ia adalah seorang mantan penembak jitu yang menjelma menjadi pasukan satu orang demi menumpas Mafia, KGB, kelompok teroris, penjahat siber, atau siapa pun yang menjadi ancaman utama pada era buku tersebut diterbitkan. Umur seri ini sangat panjang, terbit dari tahun 1969 hingga 2020. Meskipun Pendleton meninggal dunia pada 1995, kepopuleran bukunya tidak ikut mati. Pendleton sempat menyewa penulis hantu dan memberikan lisensi karena pada masa keemasannya, buku ini bisa dicetak hingga dua kali dalam sebulan. Dengan total 464 judul buku, seri ini telah terjual ratusan juta kopi di seluruh dunia dan melahirkan berbagai cerita lepasan, majalah, hingga komik.
Jalan Berliku Menuju Adaptasi Membawa aksi Bolan ke Hollywood bukanlah perkara mudah. Selama bertahun-tahun, banyak sineas papan atas mencoba dan gagal. Sutradara William Friedkin pernah berniat menggarapnya dengan menjadikan Sylvester Stallone sebagai bintang utama. Nama-nama besar seperti Burt Reynolds dan Steve McQueen juga sempat dikaitkan dengan proyek ini dalam beberapa kesempatan. Pada 2014 lalu, penulis naskah Shane Salerno sebenarnya sempat mencoba membangun proyek adaptasi ini di Warner Bros dengan melibatkan Bradley Cooper. Sayangnya, rencana itu dipastikan gagal sejak awal karena Salerno ternyata hanya memegang sebagian dari hak ciptanya. Selama beberapa dekade, Sony rupanya telah menguasai hak siar domestik. Kini, semua kerumitan hak cipta itu akhirnya berhasil disatukan di bawah payung Sony, membuka jalan yang selama ini tertutup rapat.
Bagi Joel Silver, kesepakatan ini ibarat sebuah siklus yang kembali ke titik awal. Ia sudah berusaha mewujudkan film ini sejak awal tahun 1990-an. Di sisi lain, Shane Black akan bertindak sebagai penulis naskah, bekerja sama dengan kolaborator setianya, Anthony Bagarozzi dan Charles Mondry, serta membidik kursi sutradara. Black adalah penggemar berat fiksi picisan dan novel murahan, sehingga kisah-kisah Bolan memang sudah lama menjadi favorit pribadinya.
Kolaborasi Tim Penuh Pengalaman Reuni antara Black dan Silver jelas memancing rasa penasaran publik. Keduanya pernah berkolaborasi menelurkan film-film laga klasik yang sangat membekas di ingatan, seperti Lethal Weapon, The Last Boy Scout, Kiss Kiss Bang Bang, dan The Nice Guys. Mereka juga sempat bekerja sama untuk film Amazon berjudul Play Dirty, sebelum akhirnya Silver diberhentikan dari proyek tersebut menyusul adanya tuduhan kekerasan verbal.
Tim penulis naskah proyek ini juga punya rekam jejak yang patut diperhitungkan. Bagarozzi sebelumnya ikut menulis The Nice Guys bersama Black, serta menulis Dirty Money bersama Black dan Mondry. Duet Mondry dan Bagarozzi juga berada di balik naskah film daur ulang Road House yang dibintangi Jake Gyllenhaal, di mana Silver turut bertindak sebagai produsernya.
Di bangku produser, Silver akan didampingi oleh Don Murphy dan Susan Montford dari Angry Films. Keduanya adalah sosok berpengalaman yang selama bertahun-tahun ikut mengurai benang kusut hak cipta karya Pendleton ini. Murphy sendiri dikenal sebagai salah satu produser waralaba raksasa Transformers. Bersama Montford, mereka baru saja menggarap film horor berani bertajuk Faces of Death yang akan dirilis oleh IFC/Shudder pada 10 April mendatang. Melalui bendera Angry Films, duo ini juga sedang sibuk mengembangkan adaptasi film laga hidup dari permainan video horor Poppy Playtime serta jagoan klasik Buck Rogers bersama rumah produksi Legendary.



