Anggota Milisi Sudan Bantai dan Perkosa Demonstran Pro-Demokrasi

Para demonstran Sudan berdiri di atas papan reklame robek menuntut Presiden Sudan Omar Al-Bashir untuk mundur, di luar Kementerian Pertahanan di Khartoum, Sudan 9 April 2019. (REUTERS)

VIRAL12JAM.COM - Anggota milisi Sudan melakukan pembantaian dan pemerkosaan massal ketika mereka menyerang kamp demonstran pro-demokrasi di ibu kota Khartoum pada Rabu (12/6/2019). Petugas keamanan mendapati laporan 70 kasus pemerkosaan dalam aksi keji itu.

Serangan diduga dilakukan oleh anggota milisi Rapid Support Forces. Kelompok ini dikenal brutal dan pernah menjadi biang dalam konflik di wilayah barat Darfur, Sudan, yang dimulai pada 2003.

Di rumah sakit Royal Care, seorang dokter mengatakan bahwa ia sedang merawat lima perempuan dan tiga laki-laki korban pemerkosaan. Sementara di rumah sakit lainnya di selatan Khartoum, sebuah sumber medis menyebut mereka menerima dua korban perkosaan.

Lebih dari 100 orang tewas ketika pasukan keamanan membubarkan demonstrasi pro-demokrasi pada 3 Juni lalu, dan sekitar 700 orang lainnya luka. Sudan berada dalam kekacauan usai Omar al-Bashir, presiden terkuat Sudan selama 30 tahun ini berhasil digulingkan dari jabatannya pada April lalu.
Al-Bashir sudah menjadi target pengadilan kejahatan perang internasional karena kekejamannya saat perang saudara di Darfur. Ia merebut kekuasaan dalam kudeta pada 1989, dan entah bagaimana bisa melewati krisis nasional yang tak terhitung jumlahnya.

Dewan HAM PBB telah mengeluarkan peringatan perihal situasi HAM di negara itu. PBB menyerukan penyelidikan independen terhadap pelanggaran HAM yang menyasar para demonstran.

Penyelidikan independen dilaporkan baru akan dibentuk oleh Dewan HAM PBB pada 24 Juni mendatang. Saat ini ada laporan bahwa ada 19 anak yang ikut tewas dalam kekacauan selama unjuk rasa.

"Kami telah menerima informasi bahwa anak-anak ditahan, direkrut untuk bergabung dalam pertempuran dan dilecehkan secara seksual," kata Direktur Eksekutif Unicef, Henrietta Fore.

“Sekolah, rumah sakit, dan pusat kesehatan telah menjadi target, dijarah dan dihancurkan. Petugas kesehatan diserang hanya karena mereka melakukan pekerjaan mereka," imbuhnya, dikutip ayobandung.com.
Pasukan Forces for Declaration of Freedom and Change, yang mewakili para demonstran, meminta orang-orang untuk pulang ke rumah dan kembali bekerja. Sebelumnya mereka telah melakukan mogok kerja selama tiga hari.

Toko-toko mulai dibuka dan lalu lintas kembali ke kesibukan normal di Khartoum. Keputusan untuk mengakhiri protes diumumkan guna menghindari ekskalasi lebih lanjut, setelah mereka menghadapi kekacauan selama sepekan.

Sudan mengalami perang saudara pada 2003 ketika pasukan pemerintah dituding menindas populasi non-Arab di Darfur. Perang saudara yang terjadi kemudian mendapat perhatian dunia dan membuat ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal.
Topik:
Reaksi:

Kabar Viral Lainnya

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda sesuai dengan topik berita pada halaman ini. Komentar yang baik sangat berharga bagi kami.
Buka Komentar
© 2019 Viral 12 Jam / Template by Basri Matindas