Korban Kekerasan Polisi saat Aksi 22 Mei Diimbau Lapor ke Propam

(Foto: detikcom)

VIRAL12JAM.COM - Komisi Kepolisian Nasional mengakui kekerasan dalam aksi demonstrasi tidak boleh dilakukan baik oleh massa maupun aparat.

"Baik Polisi maupun masyarakat tidak dibenarkan melakukan kekerasan di luar hukum. Tapi sepertinya dinamika kejadian beberapa hari terakhir ini membuat kekerasan tidak dapat terhindari oleh kedua belah pihak. Walau hingga kini saya masih meyakini, bahwa bukan dimulai oleh aparat," kata anggota Kompolnas Andrea H. Poeloengan, Sabtu (25/5/2019) malam, dilansir detikcom.

Baca: Polisi Incar Penyebar Hoaks Remaja Tewas saat Aksi 22 Mei

"Secara teori, memang upaya keras terukur oleh aparat hanya digunakan sebagai tindakan terakhir jika aparat atau masyarakat terancam raga atau jiwanya. Tapi secara praktik di lapangan, ketika sudah ada korban sedikit atau ringan saja, tidak tertutup kemungkinan aparat akan melakukan perlawanan, siapapun itu, entah Polri, TNI, Satpol PP, maupun Satpam jika berada pada titik terdesak atau puncak emosi," terangnya.
"Ibarat, kalau kita terjebak di tengah tawuran pelajar atau antar kampung saja, kita yang tidak bisa menghindar, sangat mungkin jadi korban yang tak bersalah. Apalagi jika tidak mau pergi jika dihalau, kemudian ngotot dan melempari, atau menyerang aparat, potensi kita menjadi korban sudah sebuah resiko," imbuh Andrea.

Baca: Berlogo Gerindra, Ambulans Berisi Batu Ini STNK-nya Mati

"Saya prihatin ada masyarakat yang merasa teraniaya yang diduga dilakukan oleh Polisi, sebaiknya segera lapor ke Div Propam Polri di Mabes Polri, karena operasi ini di lapangan adalah tanggung jawab dari Kapolda Metro Jaya," jelasnya.

Dia juga menyinggung soal adanya penemuan peluru tajam.
"Bagi saya hal ini wajib di usut segera oleh Mabes Polri, jika perlu dengan melibatkan Kompolnas, agar jangan jadi pembusukan dan fitnah terhadap Polri. Terutama soal penembakan dan peluru tajam, bahwa Polri termasuk Brimob yang bertugas mengamankan langsung Unjuk Rasa pada saat itu, tidak dibekali senjata api dan peluru tajam." tambah Andrea.

"Saya menilai, terlepas dari kejadian kekerasan yang ada, seolah Polri saat ini seperti dibusukkan dimata masyarakat, terlihat bahwa Unras di Bawaslu hingga lewat Magrib, tidak ada harganya di mata masyarakat pendemo, bahkan ketika diminta bubar, ada masa lain yang melawan Polri, merusak aset anggota Polri dan aset Polri. Ya, secara tegas saya katakan perlu diusut secara keseluruhan, tidak hanya kejadian-kejadian dugaan kekerasan tersebut saja, tapi keseluruhan aksi masyarakat ini agar sekali lagi jangan terjadi fitnah," ujarnya.
Topik:
Reaksi:

Kabar Viral Lainnya

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda sesuai dengan topik berita pada halaman ini. Komentar yang baik sangat berharga bagi kami.
Buka Komentar
© 2019 Viral 12 Jam / Template by Basri Matindas